Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

Edukasi Seks untuk Anak Tak Lagi Tabu!

Khofifah Indar Parawansa, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) menjelaskan, perlu ada penjelasan yang lebih terbuka, pendampingan, dan edukasi yang lebih lengkap untuk anak. Persoalan edukasi seks sebaiknya tak hanya dibatasi seputar pengenalan organ tubuh, namun juga kesehatan reproduksi.

"Penjelasan mengenai masturbasi, memilih panty liner yang sehat, bagaimana merawat organ vital, menjadi pengetahuan yang perlu dijelaskan lebih terbuka, terutama kepada anak usia remaja (SMP hingga SMA)," jelas Khofifah kepada Kompas Female, usai penandatanganan kerjasama strategis organisasi perempuan Muslimat NU dengan Avrist Assurance, di Jakarta, Rabu (30/6/2010).

Sebagai pimpinan organisasi perempuan, Khofifah, memberdayakan kaum perempuan melalui berbagai komunitas kaum ibu seperti Majelis Taklim. Pertemuan para guru perempuan (Ustadzah) di kalangan NU juga menjadi kesempatan untuk menyampaikan pesan pentingnya pemahaman para pemuka agama dan kaum ibu mengenai edukasi seks. Dengan begitu, orangtua akan terbekali untuk mendidik dan mengasuh anak remajanya dengan lebih terbuka.

"Pola di Jawa Timur misalnya, dalam pertemuan para ustadzah, dokumen yang sudah dikumpulkan Muslimat NU lengkap dengan pendapat pakar, dasar hukum, serta visualisasi mengenai edukasi seks disampaikan. Para ustadzah ini adalah corong dan mereka mempraktekkan ilmu dalam komunitasnya di Majelis Taklim," jelas Khofifah, sambil menambahkan bahwa Muslimat NU merupakan organisasi perempuan di NU yang menyasar kaum ibu.

Program Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) menjadi payung kegiatan edukasi seks berbasis pesantren, juga menjadi cara lainnya terkait edukasi seks.

Bahkan remaja yang menjadi sasarannya pun dilibatkan, dengan sebutan Pendidik Sebaya. Tentu saja keterlibatan remaja ini masih dalam koridor KRR dan monitoring dari orang dewasa.

"Informasi akan lebih mengena kepada remaja kalau disampaikan oleh rekan sebayanya," tandas Khofifah.

Diharapkan, semakin banyak anak dan remaja, serta orangtua, yang tak lagi tabu bicara seks. Entah itu disampaikan melalui individu, komunitas, atau sekolah. Setidaknya, dampak pergaulan bebas bisa semakin terminimalisasi karena anak sudah mengerti tubuhnya dan bertanggungjawab memeliharanya.



sumber: kompas.com

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Remaja Tiru Perilaku Seksual Orangtua

Para remaja ternyata lebih memilih orangtuanya ketimbang media atau teman sebagai panutan untuk memiliki perilaku seksual yang sehat.


Hal ini terutama terjadi pada remaja yang berasal dari keluarga yang terbuka membicarakan isu seksualitas Demikian menurut survei yang dilakukan di Kanada terhadap 1.100 ibu yang memiliki anak remaja dan 1.200 remaja usia 14-17 tahun.

Diketahui 45 persen remaja menjadikan orangtuanya sebagai role model dan 32 persen lebih memilih meniru perilaku temannya. Remaja yang menjadikan selebriti sebagai panutan hanya 15 persen.

Para remaja yang bisa berdiskusi secara terbuka mengenai masalah seksualitas dengan orangtuanya pada umumnya lebih paham pada risiko dan konsekuensi dari penyakit menular seksual Komunikasi yang baik di dalam keluarga, termasuk dalam isu kesehatan seksual sangat berpengaruh pada perilaku seks yang bertanggung jawab," kata Dr.Jean-Yves Frappier, peneliti dari University of Montreal, yang melakukan survei ini.

Berbeda dengan jawaban para remaja, ternyata hampir 78 persen para ibu merasa anak mereka menjadikan teman-teman sebagai panutan dalam persoalan seks.

Para ibu juga menjawab para ayah kurang mau terlibat dalam mengedukasi anak-anaknya pada isu kesehatan seksual.Orangtua banyak yang meremehkan peran mereka pada kehidupan anak-anaknya," kata Frappier.

Selain membuka dialog yang terbuka, para orangtua juga disarankan memberi contoh perilaku seks yang sehat dan bertanggung jawab.




Sumber : kompas.com

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Seks di Usia Dini Memicu Depresi

KOMPAS.com — Penelitian mengindikasikan, melakukan hubungan seks di usia dini berpotensi menimbulkan dampak negatif pada tubuh dan suasana hati (mood) di kemudian hari. Menurut analisis para ahli, hal ini mungkin disebabkan karena di usia belia, sistem saraf pada tubuh masih dalam tahap perkembangan.


Meskipun riset ini didasarkan pada uji coba menggunakan hewan pengerat di laboratorium, tetapi para peneliti yakin bahwa temuan ini penting dan mungkin dapat diaplikasikan dalam memahami perkembangan seksualitas manusia.


Dalam penelitiannya, para ahli melakukan pengujian terhadap sepasang hamster dewasa. Usia hamster betina dan jantan ini setara dengan usia seorang manusia ketika saat remaja.


Hasil penelitian menunjukkan, hamster jantan yang melakukan hubungan seks pada usia muda cenderung menunjukkan perilaku atau tanda-tanda seperti depresi, penurunan berat badan, jaringan reproduksi yang lebih kecil, dan perubahan sel di otak ketimbang hamster yang tidak melakukan hubungan seks sama sekali.


Hewan yang melakukan hubungan seks pada usia muda juga berisiko mengalami peradangan pada jaringan otak dan memiliki struktur kompleks selular yang lebih rendah di bagian sinyal otak.


"Melakukan hubungan seksual di usia dini, bukan tanpa konsekuensi," kata John Morris, peneliti studi, sekaligus seorang mahasiswa doktor di bidang psikologi di Ohio State University.


"Hal ini bisa memengaruhi kerentanan pria terkait gejala depresi, dan juga dapat meningkatkan risiko mereka mengalami peradangan di masa dewasa," katanya.


Penelitian ini di publikasikan pada pertemuan tahunan Society for Neuroscience di Washington DC, Amerika Serikat.



sumber : kompas.com

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

"Bullying" Memicu Anak Bunuh Diri


Kompas.com - Bullying atau penggunaan kekuasaan untuk menyakiti seseorang banyak terjadi di lingkungan sekolah. Perbuatan pemaksaan atau kekerasan ini berdampak negatif bukan hanya pada orang yang menjadi korban tapi juga pelakunya. Bahkan bisa memicu keinginan bunuh diri pada anak. 

Dalam penelitian di Inggris terungkap anak-anak yang terus menerus di-bully beresiko enam kali lipat untuk berpikir bunuh diri dibandingkan dengan anak lain. Pikiran untuk bunuh diri itu kerap muncul saat mereka berusia 11 tahun. 

Penelitian yang dimuat dalam Journal of the American Academy of Child and Adolescent Psychiatry ini dilakukan dengan menganalisa 6.000 anak berusia 4-10 tahun. Rata-rata anak yang menjadi korban dan pelaku bullying memiliki pikiran bunuh diri di usia 11-12 tahun.

Perbuatan bullying bisa berupa tindakan memukul, mendorong, mengejek, mengancam, menjuluki, meneror, menyebarkan desas-desus, mendiskriminasi, dan sebagainya. Selain melalui tatap muka, aksi bullying juga bisa melalui email atau media sosial yang berisi pesan-pesan yang menyinggung perasaan orang lain.

Selain merasa malu, sedih, dan takut, korban juga bisa memiliki perasaan rendah diri dan tidak berharga. Dampak psikologis yang lebih berat adalah kecemasan dan keinginan bunuh diri karena mereka tidak tahu harus meminta tolong kepada siapa, atau karena merasa malu. 

Karena korban bullying kerap tidak meminta bantuan, orangtua harus lebih jeli memperhatikan sikap anak. Perilaku menghindari sekolah, terutama karena alasan yang tidak spesifik seperti sakit kepala atau sakit perut. Waspadai pula perubahan perilaku yang dialaminya seperti penurunan prestasi akademik, sulit tidur, dan tampak gelisah.




Sumber : Kompas.com
.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS